logo rilis

Sidang Fee Proyek Lamsel, Nusantara Antar Uang Ke Syahroni, Wahyu Kirim ke Anjar Asmara
berita
Sidang fee proyek Lamsel hadirkan enam saksi, Rabu (7/4/2021). Foto: Kiki Oktavian
RILIS.ID, Bandarlampung – Pengadilan Tipikor Tanjung Karang pada Rabu (7/6/2021) siang kembali menggelar sidang perkara fee proyek korupsi di Dinas PUPR Lampung Selatan (Lamsel), terhadap terdakwa mantan Kadis PUPR Lamsel Syahroni dan Hermansyah Tarmidi.

Ada enam orang saksi dihadirkan Jaksa KPK, yakni Wahyu Lesmono, Nusantara, Imam Sudrajat, Eka Aprianto, dan Firmansyah. Mereka semua merupakan pihak rekanan yang ada di pusaran kasus korupsi itu.

Salah satu saksi bersama Nusantara, yang merupakan pegawai PT. 9 Naga Mas mengatakan, pernah diperintah bosnya yakni Gilang Ramadhan, untuk memberikan uang kepada Syahroni.

“Uang dalam plastik itu saya diberikan ke sopir Syahroni di daerah Enggal. Tapi saya tidak tahu jumlahnya,” ungkapnya.

Gilang Ramadhan sendiri yang juga terjerat kasus korupsi itu bersama mantan Bupati Lamsel Zainuddin Hasan, sudah menghirup udara bebas usai menjalani hukuman.

Sementara Wahyu Lesmono, mengatakan dirinya pernah ditawari pekerjaan oleh Agus Bhakti Nugroho, mantan anggota DPRD Lampung yang juga terpidana suap fee proyek Dinas PUPR Lamsel.

“Pada Tahun 2017 ada 11 paket pekerjaan senilai Rp6,4 miliar. Tahun 2018 ada sembilan paket proyek senilai Rp7,5 miliar,” ungkap Wahyu.

Paket proyek itu ia dapatkan saat dirinya menjadi anggota dewan. Hal itu terkonfirmasi saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Taufiq Ibnugroho menanyakan statusnya kala itu.

Tak hanya mendapatkan proyek di tahun 2017 saja, Wahyu menjelaskan bahwa dirinya pun ikut di plotting proyek di tahun 2018.

“Saya dikasih sama Pak Anjar Asmara. Saat itu dia sudah jadi Kadis PUPR Lamsel,” ungkap Wahyu lagi.

Terkait proyek di Lamsel, Wahyu pernah menyewa perusahaan milik saudaranya sendiri bernama Jaba Sona. Sona merupakan kontraktor dengan perusahaan bernama CV Sakura.

Perusahaan ini juga yang mendapatkan plotting proyek dari Dinas PUPR Lamsel. Dalam pemberian fee proyek tahun 2018 ini, Wahyu memberikan Rp750 juta. Pemberiannya bertahap dua kali.

“Kesepakatan fee dua bulan setelah kerja. Dia minta Rp500 juta yang pertama, lalu kedua Rp250 juta. Jadi total Rp750 juta. Sementara nilai proyek Rp7,5 M ditahun 2018,” katanya.

Setelah itu sidang kembali ditunda pekan dengan masih dengan agenda mendengarkan keterangan para saksi. (*)

EDITOR: Andry Kurniawan



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari