logo rilis

Pendidikan Seks Anak Usia Dini
berita
Wardoyo, SKM., M.Kes., Widyaiswara Badan Kepegawaian dan Diklat Lampung Selatan
PENDIDIKAN seks sebaiknya dimulai saat anak mulai mengenal anatomi anggota-anggota tubuh mereka serta dapat menyebutkan ciri-cirinya. Tepatnya ketika anak masuk play group (usia 3-4 tahun).

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sikdiknas Nomor: 20/2003 ayat 1 adalah usia 0-6 tahun. Sedangkan menurut kajian rumpun keilmuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan penyelenggaraanya, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun (masa emas).

Ruang lingkup PAUD di antaranya bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), kelompok bermain (3-6 tahun), dan Sekolah Dasar kelas awal (6-8 tahun).

Kendalanya, seks masih dianggap tabu dibicarakan. Padahal, banyak terjadi eksploitasi seks pada anak-anak di bawah umur. Seperti terungkap di Provinsi Maluku Utara dalam acara webinar bertajuk ”Percepatan Pengembangan PATBM di Masa Pandemi Covid–19 Tahap II” pada Senin, 24 Agustus 2020.

Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka, hal ini menjadi kasus luar biasa karena berdasarkan data Simpony PPA dari 1 Januari hingga 18 Agustus 2020 terdapat 4.833 kasus kekerasan seksual pada anak.

Angka tersebut meningkat dibanding data 31 Juli 2020 di Kementerian PPA, yakni 4.116 kasus kekerasan seksual anak di bawah umur. Tingginya kasus kekerasan seksual pada anak (child abuse) dilakukan oleh orang-orang terdekat termasuk keluarga.

Hal ini karena pendidikan seks kurang diperhatikan orang tua sehingga menyerahkan kepada sekolah. Padahal yang bertanggungjawab mengajarkan pendidikan seks sejak dini adalah orang tua.

Pendidikan seks usia dini dapat memberikan pemahaman anak akan kondisi tubuhnya, lawan jenis, dan untuk menghindarkan diri dari kekerasan seksual.

Cara yang dapat digunakan untuk mengenalkan tubuh dan ciri-cirinya antara lain melalui media gambar atau poster, lagu, dan permainan.

Dengan pendidikan seks di usia dini ini diharapkan anak dapat memperoleh informasi yang tepat mengenai seks. Tidak malah mendapatkannya dari media informasi seperti tayangan televisi yang kurang mendidik.

Lewat pendidikan seks diharapkan dapat menghindarkan anak dari risiko negatif perilaku seksual maupun menyimpang. Dengan sendirinya anak diharapkan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat. Serta dampak penyakit yang bisa ditimbulkan dari penyimpangan tersebut, misalnya penyakit gonore, sipilis, dan HIV/Aids.

Untuk membahas masalah seks pada anak memang tidak mudah. Apalagi yang ada di dalam pikiran orang tua ketika mendengar kalimat ”pendidikan seks di usia dini” adalah mengajarkan anak untuk berhubungan seksual. Sehingga orang tua menjadi enggan.

Menurut Dr Rose Mini AP MPsi, seorang psikolog pendidikan, seks bagi anak wajib diberikan orang tua sedini mungkin.

Tidak ada cara instan untuk mengajarkan seks pada anak kecuali melakukannya setahap demi setahap sejak dini. Kita dapat mengajarkan anak mulai dari hal yang sederhana dan menjadikannya sebagai satu kebiasaan sehari-hari.

Tanamkan pengertian pada anak layaknya kita memberikan pemahaman tentang agama. Kita tahu tidak mungkin mengajarkan agama hanya dalam tempo satu hari dan lantas berharap anak mampu menjalankan ibadah. Demikian juga untuk seks.

Pengenalan seks pada anak dapat dimulai dari pengenalan mengenai anatomi tubuh kemudian meningkat pada pendidikan mengenai cara berkembang biak makhluk hidup, yakni pada manusia dan binatang. Nah, kalau sudah tahu, orang tua dapat memberi contoh apa saja dampak-dampak yang akan diterima.

Salah satu cara menyampaikan pendidikan seksual pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri. Dengan cara ”Mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB). Sehingga, anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajarkan anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya.

Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orang tua sebaiknya melihat faktor usia. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, mereka akan kritis dan ingin tahu secepatnya tentang seks tersebut.

Bersikaplah jujur dan terbuka. Kita harus menyampaikan informasi yang benar dan apa adanya. Tidak boleh menjawab pertanyaan anak asal-asalan, tidak akurat, apalagi sampai melenceng dari subjek pertanyaan.

Jangan takut memberikan informasi yang jujur karena ini akan mengajari anak untuk mau juga bersikap jujur dan terbuka kepada orang tuanya.

Dengan jujur, kita tidak menyesatkan anak dengan informasi yang tidak benar karena bisa melahirkan rasa tidak percaya anak pada orang tuanya. Faktanya banyak orang tua yang tidak besikap jujur ketika memberikan informasi seks pada anak, seperti menyebutkan organ seksual dengan istilah-istilah yang lain.

Belajarlah bersikap santai, wajar, dan biasa-biasa saja. Jangan membesar-besarkan masalah, karena menganggap seks merupakan topik yang berat. Usahakan menjaga intonasi suara ketika menjawab pertanyaan anak.

Tidak boleh bersikap heboh dan berlebih-lebihan. Kualitas kata atau kalimat sangat bergantung kepada cara pengucapannya. Kata yang sama namun diucapkap dengan intonasi yang berbeda akan memberikan dampak lain pada si penerima pesan.

Dalam hal seks, kita harus belajar untuk menghilangkan rasa risih dan takut ketika menjelaskannya pada anak. Jangan biarkan anak terkontaminasi pesan non verbal yang keliru hanya karena orang tua tidak mampu mengikis keresahannya setiap kali membiacarakan seks.

Sangat disarankan agar selaku orang tua kita lebih dulu melepaskan diri dari semua persepsi seks dewasa yang erotis dan mesum ketika menginformasikannya pada anak agar anak tidak menangkap pesan yang keliru.

Hindarkan kemarahan yang negatif dan menolak pertanyaan anak melalui hardikan dan umpatan kata-kata kasar. Ini sangat berpengaruh buruk pada anak. Hindari juga kebiasaan mengatakan pada anak bahwa seks itu dosa, kotor, dan tak pantas untuk dibicarakan.

Semua sikap negatif semacam ini akan menanamkan persepsi negatif tentang seks pada anak yang pada akhirnya akan memicu timbulnya pemahaman keliru tentang seks.

Kekerasan Seksual
Menyikapi kejadian kekerasan seksual serta kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja maka sikap ayah-bunda adalah:

  1. Bekali anak dengan pemahaman pentingnya menjaga diri, bahwa dirinya amat sangat berharga, tidak sembarang orang dapat menyentuhnya.
  2. Tekankan pada anak agar berhati-hati terhadap sentuhan dari orang lain. Ajari perbedaan sentuhan:
    - Sentuhan baik: atas bahu dan bawah lutut.
    - Sentuhan membingungkan: bawah bahu sampai bawah lutut.
    - Sentuhan buruk: sentuhan pada bagian-bagian yang ditutupi pakaian dalam.
    Ajari anak bagaimana harus bersikap bila menerima sentuhan buruk dan membingungkan meski sentuhan itu dari orang laki-laki terdekatnya (paman, kakek, tetangga, bahkan ayahnya sendiri).
  3. Jangan bersikap berlebihan. Rasa marah atau frustasi dan tidak percaya seringkali membuat anak semakin terpuruk dan telah mengecewakan orang tua, kontrol emosi sehingga anak tidak menutup diri.
  4. Tanyakan dengan pertanyaan terbuka. Ketika anak bercerita, usahakan jangan bertanya yang terarah, pertanyaan terarah membuat anak jadi binggung. Ajukan pertanyaan seperti apa yang terjadi berikutnya?
  5. Jangan panik, tetap tenang jangan biarkan anak merasa bersalah dan menjadi takut.
  6. Semaksimal mungkin hindari anak-anak dari gadget (smartphone, tablet, ipad), tv, komputer. Lebih baik berikan mainan untuk kegiatan fisik misalnya bola, sepeda, dan atau buku-buku cerita/pengetahuan, buku aktivitas (ingat: buku adalah investasi berharga yang kita tanam untuk anak), dan atau mainan edukatif (puzzle, lego, balok, tangram, kartu-kartu yang mendidik dan lain-lain yang sudah banyak dijual di toko buku).
  7. Berikan ”underware rule”, aturan pada anak dalam berpakaian, di mana, kapan, dan pada siapa boleh membuka pakaian dalam. Jangan biasakan anak kita (usia balita) hanya memakai pakaian dalam saja saat di rumah, meski sedang bersama orang tua/anggota keluarga.
  8. Berikan aturan, sejak usia tujuh tahun sudah dipisah tidurnya antara laki-laki dan perempuan dan tidak boleh tidur dalam satu selimut. Bila masuk kamar orang tua, harus mengetuk pintu terlebih dahulu.
  9. Orang tua tidak membiasakan diri hanya memakai handuk saja saat keluar dari kamar mandi. Aturan ini juga harus dibiasakan pada anak-anak kita.
  10. Dengan musim pandemi Covid- 19 ini yang dianjurkan dari kesehatan baik untuk kita maupun anak-anak untuk patuh protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, memakai hand sanitizer, jaga jarak, dan hindari kerumunan.
Pendidikan seks anak usia dini berusaha membina menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi pada usia dini secara optimal. Pendidikan ini akan membentuk prilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya.

Dengan pendidikan ini, anak usia dini akan lebih siap untuk memasuki tahap pendidikan selanjutnya. Pendidikan usia dini juga menbangun landasan bagi perkembangan anak, potensi kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional. Serta membentuk perilaku yang santun dan mempersiapkan anak untuk ke tahap selanjutnya. Juga meningkatkan kreativitas, pola pikir, dan daya tarik anak. (*)

Editor:gueade


Tags


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari