logo rilis

Padi Rusak Dihantam Badai, Petani Mesuji Merugi, BPBD Diam
berita
Sawah rusak dan roboh diterjang badai beberapa waktu lalu di Desa Bangunmulyo, Simpangpematang, Mesuji, Jumat (22/5/2020). FOTO: RILISLAMPUNG.ID/ Juan Situmeang
RILIS.ID, Mesuji – Petani penggarap sawah di Kabupaten Mesuji harus gigit jari. Bagaimana tidak. Di tengah pandemi Covid-19, angin badai memporakporandakan sawah mereka.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mesuji pun belum melakukan langkah-langkah pascabencana tersebut.

Warni (35), petani di Desa Bangunmulyo, Simpangpematang, yang semua padi di sawah miliknya roboh, mengaku belum ada yang datang memberi bantuan.

"Boro-boro bantuan. Yang datang menengok saja tidak ada," ujarnya, Jumat (22/5/2020).

Di kompleks persawahan perbatasan dua desa Wirabangun dan Bangunmulyo, sawah yang porakporanda dihantam badai dua hari lalu bukan hanya milik Warni.

Beberapa petani lain juga mengalami. Ada yang satu hektare (ha), setengah, ada pula yang seperempat hektare.

Warni sendiri memiliki seperempat ha sawah yang semua padinya roboh diterjang badai.

"Ya, ini lagi diupayakan bisa ditegakkan lagi. Kalau tidak bisa gagal panen. Sudah diupayakan seperti ini pun hasilnya paling tinggal 50 persen," jelasnya.

Upaya yang dilakukan Warni dan suaminya agar padinya tetap bisa panen adalah dengan mengikat empat rumpun padi menjadi satu.

Begitu terus dilakukan seluas hamparan sawah. Tentunya, mereka sambil berharap tidak ada angin kencang.

"Kalau angin kencang datang lagi, ya roboh lagi," ujarnya.

Ia memperkirakan padinya akan panen satu bulan ke depan. Karena sudah berisi padat dan hampir menguning.

Sebelum hujan badai dua hari lalu, Warni mengungkapkan petani di wilayahnya sudah lebih dulu diserang hama wereng. Maka, kata dia panen tahun ini di bawah hasil sebelumnya.

Kalau kondisi normal, panen bisa 28 karung kapasitas 50 kilogram (kg) gabah. Kalau sekarang, paling setengahnya.

Tidak hanya itu. Harga gabah panen juga rendah, hanya Rp3.500/kg. Kalau normal, bisa Rp4000-4300/kg.

Untuk panen kali ini, petani lain, Agus (55), pemilik mesin panen juga tidak menerima bagi hasil. Maunya uang tunai.

Ataupun jika dipaksakan bagi hasil, kerugian untuk petani.

”Kalau biasanya pembagian 7 : 1, jika padi abis roboh jadi 5 : 1. Alasannya, sulit memanen," ujarnya.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Syahril, dihubungi melalui WhatsApp, belum juga memberi informasi apapun terkait rumah rusak atau warga yang sawah dan kebunnya terkena bencana.

Sampai pukul 12.35 wib, pertanyaan wartawan media ini tidak dijawab. (*)



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari