logo rilis

Limbah Medis Dibuang ke TPA, Polda Diminta Seret sang Dalang
berita
Diskusi publik soal limbah medis. FOTO: TANGKAPAN LAYAR
RILIS.ID, Bandarlampung – Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, terlihat geram saat diskusi publik online, Kamis (4/3/2021).

Sebab, pada masa pandemi ini masih saja ada oknum yang membuang limbah medis golongan B3 di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung, Bandarlampung.

Padahal, mestinya limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti bekas jarum suntik, botol dan selang infus, masker, dan sarung tangan ditangani secara hati-hati.

Wahrul karenanya menuding ada aktor intelektual dalam masalah ini. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ia sebut sebagai pihak yang paling bertanggungjawab.

Dia karenanya meminta Wali Kota Bandarlampung Eva Dwiana mengevaluasi kerja jajaran DLH.

”Kalau memang tegas, nggak akan terjadi seperti ini. Nggak ada sekelik ekam, kalau nggak becus ya pecat!" tandasnya dalam diskusi yang digelar Walhi Lampung itu.

Limbah medis yang dibuang sembarangan, menurut dia, sangat berbahaya. Apalagi, pada masa pandemi di mana penyebaran virus corona masih tinggi.  

”Untung nggak pada mati itu pemulung di TPA Bakung,” kesalnya.

Dia bahkan menyebut ada main mata. Sebab, pengelola limbah medis yang menjadi pihak ketiga ternyata ada di Pulau Jawa.

"Pengelola di Jawa, tapi pembuangan di Bakung. Ada apa? Tentu ada pembiaran," geramnya.

Akademisi dari Universitas Lampung, Budiyono, berpendapat sama. Dia meminta Ditreskrimsus Polda Lampung membidik sampai menangkap aktor intelektualnya.

"Kalau bisa jangan cuma dicopot dari jabatannya, tapi dipecat juga,” desaknya.

Sementara, Panit I Ditreskrimsus Polda Lampung Iptu GM Saragih, mengatakan pihaknya sudah memeriksa beberapa saksi.

Mereka adalah tiga orang dari DLH, enam orang dari rumah sakit (RS) Urip Sumoharjo, dan enam dari TPA Bakung. 

"Dari TPA Bakung meliputi mandor dan juga pemulung," terangnya. 

Berdasarkan penyelidikan, standar operasional prosedur (SOP) pembuangan limbah medis melalui beberapa tahapan. Misalnya, mobil pengangkut harus masuk melalui jembatan timbang. 

"Tapi Januari 2021, jembatan timbang rusak. Untuk jalur angkut mobil yang dikemudikan HB, meliputi rumah sakit, Wayhalim, dan Kejati Lampung. Mobil ini juga tidak terdaftar sebagai mobil pengangkut limbah," terangnya.

Sementara, menurut saksi sampah yang diangkut HB dan kemudian dibuang ke TPA Bakung merupakan limbah medis golongan B3. 

"Mobil itu seharusnya 24 kali melakukan pengangkutan sampah dalam satu bulan. Tapi ini tidak terdaftar dalam jembatan timbang," tutupnya.

Yudi, yang mewakili DLH menyatakan pihaknya telah mendatangi pihak RS dan menegur mereka tentang pengelolaan limbah medis.

Sebab,  ada beberapa hal yang menurut dia kurang baik. Seperti mensejajarkan antara limbah medis dan sampah biasa.

Sementara, Kabag Umum RS Urip Sumoharjo (RSUS), Lia Amelia, sebelumnya mengatakan pihaknya hanya mengumpulkan limbah medis. Untuk proses pengangkutan dilakukan oleh pihak ketiga.

Wakil Direktur Utama RSUS, Saiful Haris, pun berpendapat sama. Sebab, pihaknya telah memisahkan antara limbah medis dengan domestik dan telah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga. (*)

EDITOR: gueade



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari