logo rilis

Akhiri KDRT di Masa Pandemi
berita
Wardoyo, SKM., M.Kes., Widyaiswara Badan Kepegawaian dan Diklat Lampung Selatan
APA hubungan antara Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan pandemi Covid-19?

Nyatanya, KDRT justru meningkat di masa merebaknya Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyebutkan, terdapat 2.807 KDRT di tahun 2019 dan 6.480 kasus pada 2020. Lalu, apa penyebab meningkatnya KDRT di masa pandemi?

Salah satu strategi pemerintah menekan penyebaran Covid-19 adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) melalui Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2020.

Dengan berbagai pembatasan di tempat kerja, sekolah, dan tempat atau fasilitas umum, akhirnya orang lebih banyak tinggal di rumah. Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah baru dalam keluarga, termasuk tindak kekerasan.

Yang paling dirugikan dalam KDRT jelas adalah perempuan. Dunia bahkan menyebut KDRT adalah bentuk nyata pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Dan, seharusnya masyarakat atau individu juga menyadari KDRT merusak harkat dan martabat kaum wanita.

Kekerasan terhadap perempuan terjadi setiap hari di berbagai belahan bumi ini. Korban dan pelakunya tidak mengenal suku bangsa, warna kulit, etnis agama dan kepercayaan.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan perwujudan ketimpangan historis dari hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini mengakibatkan dominasi dan diskriminasi terhadap perempuan oleh laki-laki.

Pengertian kekerasan terhadap perempuan terdapat dalam Pasal 1 Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (Declaration on the Elimination of Violence Against Women) tahun 1993.

Yaitu, setiap tindakan kekerasan berbasis gender (gender based violence) yang berakibat atau berpeluang mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual atau psikologis. Termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di depan umum (dalam masyarakat) atau dalam kehidupan pribadi.

Berdasarkan Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT (UU PKDRT), KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga. Termasuk, ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 angka 1).

Secara umum bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu kekerasan di ranah domestik (KDRT) dan kekerasan di luar ranah personal (kekerasan di luar rumah tangga).

Yang paling menyedihkan ada anggapan KDRT merupakan urusan internal rumah tangga/keluarga dan aib untuk dibicarakan dengan orang lain.

Di ranah KDRT dapat dibagi dalam lima jenis kelompok yaitu:
a). Penganiayaan fisik seperti tamparan, pukulan, dan tendangan,
b). Penganiayaan psikis seperti ancaman, hinaan, dan cemoohan,
c). Penganiayaan seksual dalam bentuk pemaksaaan hubungan seksual baik dalam pernikahan maupun di luar pernikahan,
d). Pengabaian dalam pemberian nafkah kepada istri atau mengontrol uang belanja.
e). Penganiayaan terhadap suami (mempekerjakan suami dalam rumah tangga). Suami dijadikan seperti budak dan perempuan tidak menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya secara bersama-sama/gotong royong.

Dari uraian ini, KDRT ternyata diketahui sebagai masalah yang sangat kompleks. Pada poin e), misalnya, suami seperti kalah dengan kaum perempuan. Dalam arti kata, suami mengurusi pekerjaan rumah tangga. Mulai mencuci sampai menggosok baju, hingga menyapu dan mengepel lantai.

Sampai-sampai pada suatu kasus, istri pada akhirnya menghidupkan mesin cuci saja tidak bisa. Akibatnya, suami tidak tahan hingga pergi tanpa alasan. Ini sebenarnya juga digolongkan KDRT karena ’membabukan’ sang suami.

Pertanyaannya, ada apa dengan si suami yang harusnya menjadi kepala rumah tangga? Apakah dia takut istri atau pada kasus ini istri lah yang mencari nafkah?

Lemore Walker yang merupakan pakar psikologi mengidentifikasikan empat tahap KDRT yang dilakukan suami.

Pertama, tahap pembentukan ketegangan.

Kedua, tahap pemukulan yang berulang-ulang.

Ketiga, tahap tumbuhnya cinta lemah lembut dan penyesalan yang mendalam.

Keempat, kembali muncul konflik dan ketegangan dan yang demikian selalu berulang-ulang.

Faktor Penghambat
Ada faktor penghambat yang perlu diperhatikan dalam membela perempuan yang mengalami KDRT, yaitu belum tersedianya perlindungan hukum dalam sistem hukum sekarang. Baik dari segi subtansi struktur maupun budaya yang dalam hal ini masih lemah dan belum berpihak kepada korban.

Aparat penegak hukum masih kurang responsif dalam kepentingan perempuan, terutama dalam kasus KDRT. Celakanya, KUHP tidak menjangkau berbagai motif kekerasan di masyarakat sehingga melukai rasa keadilan.

Dalam benih-benih terjadinya pemukulan terhadap istri, perempuan berposisi lebih rendah dibanding laki-laki. Karena dalam kendali ekonomi laki-laki adalah pencari nafkah, dan ini didukung oleh  lembaga ekonomi dan politik secara keyakinan.

Faktor lain bisa jadi agama yang sangat bias dan tidak humanistis serta tak mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Di masa pandemi, saat kesadaran akan kesetaraan gender makin tinggi, penting memiliki perspektif diri dalam menjaga ranah kebangsaan sebagai bangsa Indonesia.

Potensi saling menghormati lebih banyak berpeluang muncul dibanding potensi konflik rumah tangga yang bahkan menjurus pada KDRT.

Dengan semangat toleransi dan menanyakan apa keuntungan bila terjadi konflik dalam rumah tangga yang menyebabkan anak menjadi korban, KDRT seharusnya bisa dihindari.

Toleransi, saling mencintai, dan menghormati dalam kehidupan yang majemuk, akan mampu menjadikan aneka perbedaan sebagai gemerlap hidup yang warna-warni.

Perbedaan justru menjadi indah untuk memupuk keharmonisan dalam kehidupan berumah tangga. Karenanya, akhiri semua bentuk KDRT di masa pandemi. (*)

Editor:gueade


Tags


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari