logo rilis

Tren Foto Polos, Kepuasaan Pribadi hingga Komersial
berita
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman
RILIS.ID, Bandarlampung – Gadis-gadis cantik di Kota Bandarlampung rela mendatangkan fotografer profesional untuk berfoto polos (nude photography). Alasannya, demi kepuasan pribadi hingga komersial.
===

KULIT putih, tubuh tinggi semampai dan padat berisi tentu menjadi nilai lebih perempuan yang memilikinya. Tak terkecuali bagi Ranum –bukan nama sebenarnya. Paras ayu dan rambut panjang hitamnya semakin membuat kecantikannya sempurna.

Ranum sadar betul akan hal itu. Mengerti betapa banyak mata lelaki selama ini secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mengaguminya.

Karena itulah, Ranum mengaku mulai menyukai nude photography atau seni fotografi yang memotret objek atau model dalam keadaan polos (berita ini dapat juga dibaca di koran Rilisid Lampung edisi Senin (27/5/2019).

Perempuan berusia 23 tahun ini terlihat santai menunjukkan beberapa foto dirinya tanpa mengenakan pakaian.

Dari foto tersebut jelas bahwa gambar-gambar tersebut tidak diambil menggunakan kamera ponsel atau dipotret secara asal-asalan.

”Saya sangat mengagumi tubuh saya dan kebetulan saya juga senang difoto, bahkan dalam posisi polos (polos),” kata Ranum seraya tersenyum, Kamis (23/4/2019).

Menurut warga Bandarlampung itu dia sudah punya kenalan fotografer profesional sendiri untuk memotret dirinya dalam pose nude. Tentu secara pribadi.

”Terutama kalau habis perawatan tubuh. Saya langsung telepon fotografer kenalan saya itu. Dia sudah biasa memotret saya polos,” ujar karyawan swasta itu.

Untuk sesi pemotretan, sambung Ranum, dia yang menyediakan lokasi. Biasanya ia menyewa kamar hotel.

Sesi pemotretan secara pribadi atau private itu, tidak seluruhnya mengharuskan dirinya dalam keadaan polos.

”Kalau memang saya pas mau polos, ya saya yang minta difoto polos. Tapi kalau nggak, ya saya juga nggak mau. Kalau pas nggak pede (percaya diri), ya saya pasti tolak foto polos,” tuturnya.

Hasil foto sang fotografer biasanya akan tersimpan rapi di laptopnya. Ranum memilih mencetak sendiri foto dengan printer di rumah lantaran takut fotonya tersebar luas.

Ia menegaskan dirinya percaya penuh kepada sang fotografer yang tidak akan menyebarluaskan foto pribadinya.

”Fotonya saya simpan di laptop. Dia (fotografer) juga gitu kok. Saya kan foto sama satu orang saja dan sudah kenal. Alhamdulillah nggak pernah dapat perlakuan tidak senonoh,” pungkasnya.

Lain Ranum, lain juga Sheila, juga bukan nama KTP. Perempuan berkulit sawo matang ini justru menghasilkan pundi-pundi uang dari nude fotografi.

Ia kerap kali membuka sesi fotografi private. Sekali sesi foto, ia bisa meraup uang hingga Rp2 juta.

”Memang suka saja sih difoto begitu. Biasanya buka sesi fotografi ini sebulan sekali atau lebih. Di-share aja di Instagram pasti ramai kok,” kata Sheila.

Untuk satu kali sesi foto, ia membatasi kuota fotografer. Biasanya hanya lima fotografer dan satu orang harus membayar Rp500 ribu.

”Kalau urusan hotel tanggungjawabku. Mereka tinggal datang,” ungkap gadis 22 tahun tersebut.

Perempuan yang berprofesi sebagai driver ojek online ini mengaku tegas saat melakukan sesi foto. Ia tidak memperbolehkan fotografer menyentuh badannya. Biasanya hasil foto tersebut ia akan posting di Instagram pribadinya.

”Ya cuma foto saja, yang lainnya nggak boleh. Di Instagram juga gitu, kalau ada komentar negatif ya aku blokir,” pungkas warga Bandarlampung itu. (*)

EDITOR: gueade



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari