logo rilis

RSUDAM Yakin Sesuai Prosedur, Ganti Salahkan Keluarga Pasien
berita
Jenazah M. Rezki Mediansori dimakamkan di Palas, Selasa (11/1/2020). FOTO:RILISLAMPUNG.ID/Agus Pamintaher
RILIS.ID, Bandarlampung – Pelayanan pihak RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM) dikeluhkan keluarga pasien BPJS atas nama M Rezki Mediansori (21).

Pemuda asal Desa Palas Pasemah, Palas, Lampung Selatan, itu meninggal dunia di selasar RSUDAM pada Senin (10/2/2020) (baca: Meninggal di Selasar, Keluarga Keluhkan Pelayanan RSUDAM).

Lalu, apa jawaban pihak RSUDAM? Direktur Pelayanan RSUDAM, Dr Pad Dilangga, membenarkan terdapat pasien atas nama tersebut.

Namun pihaknya membantah jika pasien meninggal dunia akibat buruknya pelayanan di rumah sakit plat merah milik Pemprov Lampung itu.

Menurutnya, pasien datang dalam keadaan sudah payah karena komplikasi penyakit. Yaitu demam berdarah, diare akut, dan hepatitis.

"Pasien itu masuk sejak 9 Febuari 2020. Dia rujukan dari RSUD Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan," katanya kepada Rilislampung.id, Selasa (11/2/2020).

Pasien sempat menjalani perawatan di ruang HCU (High Care Unit) dengan perhatian penuh dari RSUDAM.

"Kondisi pasien sakit berat, gelisah, sesak nafas. Sudah dilakukan penatalaksanaan dan dikonsultasikan ke dokter Riki,” ungkapnya.

Rezki kemudian mendapatkan rencana terapi tranfusi darah lengkap dua kantong, tranfusi trombosit 10 kantong, dan diobservasi secara ketat.

Pukul 17.00 WIB, Minggu (9/2/2020), dokter mengontrol pasien yang terlihat masih gelisah berat yang kemudian ditangani dan terapi dilanjutkan.

Hingga pada Senin (10/2/2020) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, pasien dipindahkan ke Ruang Bougenvile dan terapi kembali dilanjutkan dengan transfusi.

"Dilakukan visite oleh dokter Riki. Hasil diagnostic DHF (demam berdarah) dengan ensefalopati sepsis (menurunnya kesadaran akibat infeksi) disertai uremia (gejala komplikasi serius) dan asma eksaserbasi (asma akut),” paparnya.

Dokter Riki pun melakukan edukasi kepada keluarga pasien bahwa kondisi Rezki sangat serius. Karena itu direncanakan untuk memindahkannya ke ruangan khusus penyakit dalam.

Sampai akhir detik-detik kematiannya, pada pukul 16.00 WIB, pasien ditransfer ke ruang Nuri dengan oksigen terpasang di hidung serta didampingi dua orang petugas.

Di depan ruangan, perawat sudah menunggu kedatangan pasien untuk segera melakukan tindakan. Tetapi, pasien tiba-tiba kejang dan perawat berusaha melakukan tindakan.

"Ketika itu tiba-tiba keluarga pasien marah-marah dan memukul petugas serta mencabut selang oksigen yang masih terpasang di pasien sehingga mengganggu penanganan,” ungkapnya.

Tindakan dimaksud menurut dia menyebabkan pasien tidak dapat tertolong dan meninggal. Jenazah kemudian diantarkan ke rumah duka dengan menggunakan mobil jenazah RSUDAM. (*)



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari