logo rilis
GAK, Antara Cagar Alam dan Objek Wisata
berita
Sastrawan Lampung, Isbedy Stiawan ZS. FOTO: RILISLAMPUNG.ID
RILIS.ID, – Gunung Anak Krakatau (GAK) sudah menjadi fenomenal dunia. Ia merupakan pesona tersendiri bagi umat dunia. Perkembangan GAK yang dinilai cepat sejak 1929 dikategorikan kawasan cagar alam.

Bermula Gunung Krakatau (GK) yang meletus pada 1883 menjadi perhatian sekaligus menarik manusia di dunia. Dari para peneliti, ilmuan, hingga wisatawan ingin sekali berkunjung atau mengunjungi.

Pesona Krakatau bukan saja dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi Lampung sampai menciptakan even tahunan bernama Festival Krakatau. Juga Pemprov Banten yang "mengeruk" devisa dari objek wisata yang legendaris itu.


ADVERTISEMENT

Melalui FK yang digelar tiap tahun pada bulan Agustus, dipastikan ada jadwal trip ke GAK. Perjalanan bisa dilalui dari dermaga di Bakauheni atau Sebesi ini diikuti tak kurang 300 orang, baik undangan duta besar, peneliti, ilmuan, blogger, dan sebagainya.

Tetapi semangat trip ke GAK masih begitu besar. Pada sisi lain, Pemrov Lampung pun digayuti kecemasan dikritik oleh para pecintan lingkungan.

Hanya disebabkan GAK saat ini ditetapkan sebagai wilayah cagar alam. Atau kawasan yang dilindungi habitatnya agar tetap asri dan dijaga dari kerusakan tangan manusia.

Tahun ini serangkaian FK, Dinas Pariwisata Provinsi Lampung menggandeng Itera menggelar seminar internasional bertemakan Vulkanologi dan Pemanfaatannya di Masa Depan di Bukit Randu, Jumat (24/8/2018).

Seminar ini mengundang narasumber peneliti hingga akademisi. Dan diikuti sebanyak 150 orang. Penanggap utama dari Walhi Lampung.

Seminar ini menyimpulkan bahwa GAK adalah cagar alam. Selain demi penelitian dan ilmu, saat ini GAK tidak diizinkan dikunjungi untuk wisata.

Kesimpulan tersebut tentu saja dilematis bagi kepariwisataan Lampung. Betapa tidak, Krakatau yang sudah fenomenal dan legendaris dengan berbagai peninggalan sejarah literasi seperti Syair Lampung Karam yang dikarang Muhammad Saleh, atau pun dalam bentuk sinema, dan literatur lainnya.

Namun pada sisi lain GAK ditetapkan sebagai wilayah larangan dikunjungi wisatawan. Keprihatinan itu dirasakan Kadis Pariwisata Lampung Budiharto. Hal itu ia tegaskan pada sesi diskusi.

“Apakah kami sebagai pemilik GAK tidak dibolehkan menikmatinya, atau pun memanfaatkan pesonanya?,” tanya Budiharto saat sesi diskusi.

Diakuinya, ia amat sedih dengan ketetapan yang diberlakukan BKSDA bahwa GAK tak diizinkan untuk wisata.

Keputusan BKSDA rasanya tidak adil. Sebab untuk kepentingan ilmu para peneliti yang acap datang dari luar negeri dibolehkan.

Padahal, dari foto-foto yang dishare oleh panelis saat seminar para pengunjung dengan dalih penelitian, mengenakan bikini. Artinya, antara penelitian dan wisatawan begtu rapi terbalut.

Dalam obrolan dengan Direktur Walhi Hendrawan di saat jeda seminar, sebenarnya kalau pemerintah bisa tegas, tak ada masalah.

Para pegiat lingkungan selama ini mengendus adanya permainan antara pemerintah dengan pengusaha di sekitar GAK. Dia mencintohkan kasus pengerukan pasir di sekitar kawasan GAK oleh Pemda Lampung Selatan.

“Itulah yang kami protes. Karena GAK sebagai cagar alam, tidak boleh dirusak," ujarnya.

Sepertinya, ada ketidakberesan dengan penepatan GAK sebagai cagar alam. Di mana yang terjadi, ilegal boleh malah yang resmi sebagai tujuan wisata tidak dibolehkan.

Saya kira ke depan, Pemprov dan BKSDA Wilayah Lampung-Bengkulu dapat kembali duduk bersama untuk mengkaji ulang ketetapan itu.

Atau kembali digelar seminar dengan mendatangkan pakar vulkanoligi dan pemerhati/pakar pariwisata. Dengan harapan, mendapatkan kesimpulan untuk ketetapan yang saling menguntungkan.

Pariwisata tetap digalakkan dengan tidak merusak alam lingkungan. Bayangkan tanpa GAK, apa jadinya Festival Krakatau? Selamat menikmati pesona GAK serangkaian Festival Krakatau yang hari ini sedang berlangsung. (*)

EDITOR: Segan Simanjuntak



Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik

Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari