logo rilis

Benahi Sektor Pertanian
berita
Dr. Ir. Erwanto, M.S., Dosen Fakultas Pertanian Unila dan Anggota DRD Lampung
PERTUMBUHAN penduduk dunia masih belum berhasil dikendalikan. Berdasarkan data “Worldometer”,  18 September 2020, jumlah penduduk dunia diestimasi mencapai 7,812 miliar jiwa.

Jumlah tersebut kira-kira setara dengan dua kali lipat jumlah penduduk dunia tahun 1970. Dengan kata lain jumlah penduduk bisa meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun.

Saat ini populasi penduduk dunia meningkat dengan laju 1,05 persen/tahun, jauh menurun dari sebelumnya 2,07 persen/tahun pada tahun 1970.

Sejumlah 274,257 juta dari penduduk dunia adalah Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat empat negara dengan jumlah penduduk terbanyak di muka bumi.

Jumlah penduduk yang besar tentu saja berimplikasi langsung terhadap besarnya kebutuhan pangan.

BPS (2013) menyajikan angka prediksi jumlah penduduk Indonesia tahun 2035 akan mencapai 305,6 juta jiwa.

Prediksi tersebut dihitung menggunakan asumsi optimis bahwa pada kisaran tahun 2030 – 2035 Indonesia telah berhasil menekan laju pertumbuhan penduduknya menjadi hanya sekitar 0,62 persen/tahun.

Pertambahan jumlah penduduk menuntut tambahan pasokan kebutuhan hidup, termasuk yang sangat dasar yaitu sandang, papan, dan pangan.

Patut dicermati bahwa hampir semua kebutuhan pangan manusia diperoleh dari produk pertanian dalam arti luas, yaitu tanaman, ternak, ikan, dan lainnya.

Oleh karena itu sektor pertanian harus mendapat prioritas untuk terus dikuatkan guna menjamin kemandirian pangan.

Urgensi penguatan sektor pertanian kian mencuat ketika sektor ini juga diberi amanah tambahan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan energi, melalui produksi bahan bakar nabati (biofuel).

Deposit sumber energi konvensional yang berasal dari fosil (minyak bumi, batubara, dan gas) semakin menipis dan tidak lama lagi akan langka. Sementara itu, teknologi pemanfaatan sumber energi alternatif lainnya (energi matahari, angin, panas bumi, dan gelombang laut) masih berkutat pada masalah efisiensi proses produksi.

Defisit Pangan
Indikasi bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat mulai sulit diimbangi oleh peningkatan produksi pertanian semakin jelas.

Pada peta kelaparan dunia (World Hunger Map) yang dirilis FAO mulai terlihat beberapa kawasan di dunia telah berwarna merah dan merah muda (terbanyak di Afrika dan Asia).

Warna merah dan merah muda berarti 20-35persen penduduknya kurang pangan (undernourished).

Pada peta tersebut wilayah Indonesia terlihat mulai berwarna kuning, yang berarti 5 – 14 persen penduduknya mulai kekurangan pangan.

Kondisi defisit pangan Indonesia terlihat jelas dari semakin meningkat-nya jumlah impor pangan, termasuk beras, jagung, kedelai, daging sapi, susu, dan lainnya.

Sebagai contoh, impor beras pada tahun 2018 mencapai 2,25 juta ton (detikfinance, 16 Januari 2019).

Kondisi yang lebih parah terjadi pada komoditas daging sapi dan susu. Impor susu dan produk olahannya bahkan sudah mencapai 80 persen dari kebutuhan nasional.

Selain itu, sekitar sepertiga dari kebutuhan daging nasional harus dipenuhi dari impor daging beku dan sapi hidup.

Grafik impor komoditas pangan Indonesia (Jan-Nov 2019)

Kinerja Pertanian Menurun
Perlu disadari bahwa kinerja sektor pertanian Indonesia mulai menurun. Penurunan kinerja itu semakin menghawatirkan, sehingga harus ada kehendak dan upaya serius untuk membenahinya.

Degradasi kualitas lahan merupakan masalah sangat serius, mencakup bahan organik dan mikroba tanah, mineral makro-mikro, serta sifat-sifat fisik dan kimia tanah.

Lahan tidak mampu lagi mendukung produksi tanaman yang optimal sesuai potensi genetiknya. Degradasi lahan merupakan akibat dari kerusakan lingkungan dan praktik budidaya pertanian tidak berkelanjutan. 

Alih fungsi lahan merupakan masalah laten yang sangat besar pengaruhnya terhadap produksi pertanian.

Harian Kompas tahun 2014 merilis alih fungsi lahan sawah di Indonesia mencapai 100 ribu hektare/tahun, sedangkan laju pencetakan sawah baru hanya 47 ribu hektare/tahun.

Sawah yang hilang tidak hanya lebih luas, tetapi kualitasnya jauh lebih baik dari lahan sawah penggantinya yang berupa lahan marjinal.

Menjadi jelas bahwa alih fungsi lahan pertanian untuk kebutuhan sektor pemukiman, industri, dan transportasi harus dikendalikan secara ketat.

Pasokan air untuk irigasi adalah masalah besar lainnya yang menyebabkan kinerja pertanian makin menurun. Makin meningkat luasan sawah beririgasi teknis dan setengah teknis yang hanya mendapat air irigasi untuk satu musim tanam saja.

Hal ini disebabkan menurunnya daya dukung infrastruktur irigasi, termasuk bendungan dan saluran-saluran irigasi.

Kerusakan lingkungan yang parah di sekitar cachment area dan daerah aliran sungai berpengaruh besar dan memerlukan waktu yang lama untuk bisa direhabilitasi.

Fenomena perubahan iklim global juga mempengaruhi produksi pertanian. Pengaruh perubahan iklim yang mulai terlihat adalah sulitnya memprediksi musim tanam secara tepat.

Selain itu, perubahan iklim juga potensial memicu munculnya varian-varian baru hama dan penyakit tanaman. Semakin jelas bahwa diperlukan inovasi teknologi untuk membantu petani mengantisipasi potensi masalah, sehingga petani terhindar dari kerugian atau gagal panen. 

Mencermati kompleksnya permasalahan yang dihadapi sektor pertanian, Indonesia tidak boleh terlambat membenahi sektor pertanian.

Presiden Soekarno, ketika pidato peletakan batu pertama gedung Fak. Pertanian UI di Bogor (sekarang IPB) tanggal 27 April 1952, menyatakan, "Urusan pertanian atau persediaan makanan rakyat adalah persoalan yang amat penting, bahkan soal mati-hidupnya bangsa kita di kemudian hari”.

Pesan ini layak dicermati serius dengan segera membenahi sektor pertanian hulu-hilir.

Membenahi pertanian harus dilakukan secara sistematis dan komprehensif, dalam arti memadukan potensi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat dengan iptek maju.

Keterpaduan tersebut diarahkan menuju peningkatan efisiensi, produktivitas, dan daya saing produk dalam pendekatan agribisnis berkelanjutan.

Pendekatan korporasi yang sering dilontarkan akhir-akhir ini harus dikaji dengan cermat dan diterapkan bertahap sesuai dengan kondisi petani.  Perlu dikaji model korporasi pertanian yang kompatibel dengan kondisi petani kita.

Kebangkitan pertanian harus mencakup sejumlah aspek penting, antara lain: SDM (petani, penyuluh, dan pelaku lainnya); sarana produksi (benih, pupuk, peralatan, dan obat-obatan); teknologi budidaya; mekanisasi; pascapanen dan hilirisasi produk; konsolidasi lahan; kerjasama kemitraan; tataniaga; pembiayaan usaha tani; kebijakan dan regulasi; dll.  Semua aspek tersebut harus terus ditingkatkan melalui inovasi teknologi, termasuk digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Aspek penting lainnya adalah komitmen pemerintah mengalokasikan dana yang cukup untuk membangun sektor pertanian.

Tahun 2017 kontribusi sektor pertanian dalam PDB nasional mencapai 13,6 persen. Namun, jika pertanian dipandang secara holistik hulu-hilir (termasuk industri-agro) maka kontribusi tersebut mencapai 55 persen.

Besarnya kontribusi tersebut selayaknya proporsional dengan besaran alokasi belanja pemerintah untuk pembangunan pertanian. Mari kita segera benahi sektor pertanian, sebelum bencana terjadi. Tabik Pun! (*)

Editor:gueade


Tags


Tulis Komentar
Komentar (0)
Lihat semua komentar

Top Rubrik



Terkini

  • icon
    Dapatkan berita terkini setiap hari